Jumat, 27 Maret 2015

Jangan Ragu Jadi Perewat


Perawat adalah Malaikat tanpa sayap.
Setiap orang masuk di dunia keperawatan sangat berbagai alasan dari yang ke inginan sendiri sampai dengan.keinggin orang tua bahkan juga sebagi pilihan terakhir kerena tidak lulus tes dari kepolisian atau jurusan yang di harapkannya,semua itu boleh-boleh .saja apa.pun alasanya ...termasuk saya .
Jika Kalian sudah memutuskan dan sudah di terima di ilmu keperawata mulailah kalian
mencoba memikir dan menerima bahwa aku adalah seorang perawat dan ini adalah jalan hidup aku.
Jika anda belum juga menerima bahwa anda akan menjadi perawat saya sarankan.
keluarlah dari dunia keperawatan karena anda masih belum terlalu jauh melangkah dan mengecewakan orang tua anda saya yakin akan.beliau maaf kan jijka anda keluar.
Setia Orang Pasti ingin.sukses dan Pasti Ingin bermanafaat bagi banyak orang kita semua memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam sehari semalam.
Jadi Perawat itu anugrah yang terindah yang saya rasakan yang tak ternilain.
Jadi Perawat itu tidak mudah dan tidak sulit jika kita mau selain itu jadi perawat membuka peluang kita untuk sukses lebih besar kenapa.tidak Ini Alasanya diantaranya :
1.Perawat selalu bertemu dengan seseorang dari berbagai golongan.
2.Setiap Hari Selalu mendpatkan Ilmu tambhan tentang apa saja.
3.setiap pekerjasn yang kita lakukan adalah ibadah jika kita lakuan tulus
4.Kita selalu mendapat pertolongan oleh allah dari hal.yang tak terduga.
Saran Saya sebelum anda bertemu pasien.Bekali ilmu kalian yg cukup ,Hargai /hormati Pasien,Jangan,sombong,Jangan Mau di Panggi dengan nama Profesi yang lain .
Jika kita lakukan itu semua sy yakin perawat nama perawat akan terus berkibar..
Tapi tidak.jarang yang terjadi di lapangan saya perhatiakan 55% malah sebaliknya.
Maaf Jika Tulisan Saya Ini Masih Banyak Kekurangan By: Rio Pranata S.Kep

Jumat, 21 November 2014

Perawat Profesional

Jadi Perawat harus sabar dan dapat
mengkomunikasikan tanggung jawabnya terhadap pesin nya meskipun itu tidak mudah ini adalah.langka untuk menjadi perawat yang Profesional

1.Menyampaikan perhatian dan rasa hormat pada klien (sincere intereset).

2.Bila perawat terpaksa menunda pelayanan, maka perawat bersedia memberikan penjelasan dengan ramah kepada kliennya (explanantion about the delay).

3.Menunjukan kepada klien sikap menghargai (respect) yang ditunjukkan dengan perilaku perawat. Misalnya mengucapkan salam, tersenyum, sopan,santun dan bersalaman dsb.

4.Berbicara dengan klien yang berorientasi pada perasaan klien (subjects the patiens desires)
bukan pada kepentingan atau keinginan
perawat.

5.Tidak mendiskusikan klien lain di depan pasien dengan maksud menghina(derogatory).

6.Menerima sikap kritis klien dan mencoba memahami klien dalam sudut pandang klien (see the patient point of view).

Malang,22 November 2014.
By Rio Pranata S.Kep

Minggu, 16 November 2014

Etika Perawat

Ini lah Cara q Menghadapi pasien
Q lulus universitas kecil dah bahkan ketika lulus IPK q juga Standar.

Bahakan Saat q responsi kasus q juga sering disalahkan sama Ci,Aku tau q punya kelamahan tapi q sadar kelamahan bukan penghalang q
untuk menjalan kan kewajiban q kepada pasien.

ini cara q dan ini lah yang akan aku lakukan setiap Kali ketemu pasien q berusaha untuk .

1.menanyakan apa kabar nya dan apa yang di
rasakan
2.Menyebutkan nama saya

3.Memberi KIE Pada klien meskipun dari hal yang kecil

4.Mengatakan pada pasie jika tidak tau dan tidak jelas boleh bertnya terkait keadaan klien .

5.Mejelaskan hak perawat terhadp pasien

6.Mencoba Untuk selalu sabar.
Allham dulillah Ternyata hal itu membuat Klien lebih dekat dengan dan merasa nyaman dengan q bahkan meraka ada yg jika nanti sudah keluar dri rumah sakit menyuruh q berkunjung
kerumahnya dan siap di rawat,dan ketika q tidak dinas merka menanyakan q Bahka masih banyak lg nilai posif lainya...

Hal ini membuat Hidup q lebih berwarna dan Q sebagi perawat memiliki nilai Plus dari yang lain Karena dengan sikap q Klien memiliki kepercyan terhadp q .
Dari Sekiyan Banyak yg dinas cm q yang dicari klien padahal.Meraka ada yang dari kampus negri bisa di bilang kampus besar,dan Bahkan di antara q bias di bilang IPK nya di atas saya!
By Rio Pranata .November 2014

Pendidikan Perawat


Ners Rio Pranata 16 November 2:13
Ada Apa Dengan pendidikan Keperawatan di negri ini.

Selama 1 minggu saya dinas di Ruang Psikiatri deng jumlah total pasien selama 1 Minggu
berjumlah 11 0rang dan Dari 11 Orang pasien Yang ada saat itu,saya menemukan 2 Orang adalah Dari Keperawatan Mahasiswa Akhir yang
sekarang lagi Menyusun KTI dan Sekaligus Praktek di Rumah Sakit..

Alasan Meraka Masuk Simpel Karene
Proposanya Gak diterima Olah Dosenya meski telah berkali-kali di revisi dan dosenya hanya bisa mempersulit ..

Buat Semua Pendidik Dengrkan lah Suara Kami adalah Genersi kalian tugas kamu mendidik kami sebgai perawat profesional bukan mengantrkan kami ke RSJ.

Kenapa Kamu Rengut masa depan kami,satu hal yang harus kamu tau kami di sini belajar
dan jika kalian sakit nantin kamilah yg merawat kalian.

Tapin Kenapa Kalian mempersuli kamin dan Apa Gunanya bagi Kalian mempersulit kami sehingga
kami menjadi Depresi hingga masuk.RSJ.?
Coba Renungkan

Malang 16,November 2014.
By.Rio Pranata S.Kep

Minggu, 12 Oktober 2014

Perawat

Banyak sekali kendala untuk menjadikan perawat sebagai profesi tang profesional.Dibanding negara lain khususnya sesama negara
ASEAN, gaji perawat di Indonesia relatif rendah, rata- rata tingkat pendidikannya pun rendah, kebanyakan hanya lulusan Diploma 3 (D3). Dibanding tenaga kesehatan lain, jumlah perawat
memang relatif besar. Sebanyak 60 persen tenaga kesehatan adalah perawat. Sekitar 60 persen pegawai
rumah sakit adalah perawat. Tetapi  ini.sebenarnya tidak sebanding, karena perawat melakukan asuhan keperawatan itu selama 24 jam
dibandingkan dengan dokter yang hanya memeriksa lalu pergi, terkadang 10 orang pasien ditangani oleh 1
orang perawat. lalu bagaimana imbalan yang didapat?
apakah cukup untuk apa yang telah mereka lakukan ?
jawabannya pasti tidak. karena seperti yang kita tahu
gaji untuk perawat di Indonesia masih sangat kecil
jika dibanding dengan negara-negara lain. jadi wajar
jika muncul anggapan beban kerja yang berat tidak
sebanding dengan imbalan yang didapat.

Selasa, 29 April 2014

Perawat Menggaji Dokter


PKM Dibuka, Perawat Menggaji Dokter – Praktik Keperawatan Mandiri seringkali menjadi“pelarian” dari sebagian Perawat di negeri ini. Praktik ini juga yang seringkali menjadi permasalahan dalam kehidupan Perawat di Indonesia. Tentu kita sudah banyak mendengar  kasus yang  berhubungan dengan PKM ini. Mulai dari gugatan dari profesi lain, atau bahkan tuduhan malpraktik.

PKM Dibuka, Perawat Menggaji Dokter

Seiring dengan perkembangan RUU Keperawatan, Praktik Keperawatan Mandiri (PKM)semakin hari semakin hangat dan seksi. Ini dikarenakan  dalam RUU keperawatan yang tengah dibahas DPR, Perawat berizin diberikan kewenangan untuk melakukan praktik mandiri sesuai dengan aturan yang berlaku, setelah mendapatkan registrasi dari lembaga yang berwenang. Tentunya jika tahun ini RUU Keperawatan goal – amiin -  sudah barang tentu PKM akan menjamur dimana-mana. Ini juga didukung oleh rendahnya angka harapan hidup di Indonesia menurut Human Development Report UNDP tahun 2011 yang disinyalir karena minimnya upaya preventif dan promotif kesehatan.

Hal ini akan memberikan keleluasaan Perawat berizin menangani tindakan preventif dan promotifkesehatan pada masyarakat, menangani pasien pasca pengobatan dan dalam masa pemulihan, serta memberikan pertolongan medis sesuai kompetensinya dan aturan yang berlaku

Sudah menjadi rahasia umum bahwasannya tenaga medis di Indonesia khususnya di daerah terpencil sangatlah minim. Dan ini seolah menjadi sebuah opportunity bagi Perawat untuk membuka praktik keperawatan mandirinya. Selain untuk mencapai dan memperbaiki angka harapan hidup, juga hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan Perawat di Indonesia. Bahkan mungkin ditahun-tahun yang akan datang, persepsi Perawat pembantu Dokter akan digantikan dengan Dokter pembantu Perawat. Karena akan sangat memungkinkan jika Perawat membuka praktik mandiri, Dokter akan dipekerjakan dan digaji oleh Perawat.

Hal inilah yang kemudian menjadi masalah. Dan penulis dalam hal ini berpendapat bahwa salah satu alasan mengapa RUU Keperawatan sampai saat ini belum disahkan yaitu karena adanya point tentang Praktik Mandiri Keperawatan.

Secara logika memang, jika perawat mempunyai hak legal membuka praktik, tentu hal ini akan mengurangi lahan ekonomi profesi lain. Dan belum jelasnya grey area keperawatan menjadi masalah yang diutamakan.

Gugatan profesi lain terhadap hal ini adalah sebuah ketakutan akan “dirampasnya” kewenangan mereka oleh profesi keperawatan. Perawat yang sehari-hari bekerja di RS dan dijejali dengan berbagai pendelegasian tindakan medis oleh dokter, lama kelamaan perawat tersebut akan teramat mahir melakukan tindakan medis tersebut. Akibatnya secara alami dan tidak sadar  tindakan tersebut pun mendarah daging dan kemudian dianggap sebagai bagian dari tindakan mandiri keperawatan. Salahkah Perawat dalam hal ini?

Sebagai ilustrasi, berdasarkan evidence hasil evaluasi peran dan fungsi Perawat di Puskesmas di daerah terpencil tahun 2005 yang dirilis oleh Kemenkes dan Universitas Indonesia (UI),  bahwa tindakan medis yang sering dilakukan Perawat, antara lain:
  1. Menetapkan diagnosis penyakit (92.6%),
  2. Membuat resep obat (93.1%),
  3. Melakukan tindakan tindakan pengobatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (97.1%),
  4. Melakukan pemeriksaan kehamilan (70.1%), dan
  5. Melakukan pertolongan persalinan (57.7%).
Lihatlah bagaimana ketidaktersediaan Dokter di daerah terpencil menjadi pendukung dan faktor utama perawat melakukan tindakan medis. Namun dalam hal ini terdapat perlindungan yang jelas dari Kepmenkes No. 1239 Tahun 2001 tentang Praktik Keperawatan, yaitu ;

“Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi“,

“Bagi Perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan yang lain, dikecualikan larangan ini“.

Jadi untuk Perawat yang berdomisili di kecamatan, kabupaten atau kota dan provinsi tentu tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan medis yang diharamkan tersebut.

Meskipun RUU Keperawatan belum disahkan, sebetulnya Perawat sudah diizinkan oleh Kemenkes untuk melakukan PKM ini. Bila kita lihat beberapa pasal krusial yang ada dalam Kepmenkes No. 1239 Tahun 2001 tentang Praktik Keperawatan, disana telah dinyatakan secara lugas bahwa ;

“Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan Surat Izin Praktik Perawat (SIPP) di ruang praktiknya” dan “Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang, Perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa“.

Satu lagi yang terkait dengan PKM yang boleh dijalankan oleh Perawat, yaitu Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medis No. HK. 00.06.5.1.311 tentang Home Care yang menyatakan bahwa PKM dapat melaksanakan setidaknya 23 tindakan Keperawatan mandiri. Apa saja tindakan Keperawatan mandiri tersebut? 

PKM Dibuka, Perawat Menggaji Dokter

Dibawah ini penulis uraikan tentang apa saja Tindakan Keperawatan Mandiri yang boleh dijalankan oleh perawat.
  1. Mengambil tanda-tanda vital,
  2. Memasang nasogastric tube,
  3. Memasang selang susu besar,
  4. Memasang foley catether,
  5. Penggantian tube pernafasan,
  6. Merawat luka dekubitus,
  7. Melakukan suction,
  8. Memasang peralatan O2,
  9. Melakukan penyuntikan (IV, IM, IC, SC),
  10. Pemasangan infus maupun obat,
  11. Pengambilan preparat,
  12. Pemberian huknah atau laksatif,
  13. Kebersihan diri,
  14. Latihan dalam rangka rehabilitasi medis,
  15. Transportasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik,
  16. Pendidikan kesehatan,
  17. Konseling kasus terminal,
  18. Konsultasi baik offline atau online,
  19. Fasilitasi ke Dokter rujukan,
  20. Menyiapkan menu makanan,
  21. Membersihan tempat tidur pasien,
  22. Memfasilitasi kegiatan sosial pasien,
  23. Memfasilitasi perbaikan sarana klien.
Sudah jelas bahwa meskipun RUU Keperawatan belum disahkan tetapi PKM sudah dapat dilakukan oleh Perawat sejak tahun 2001. Sudah ada Permenkes dan Surat Keputusan yang mengaturnya secara lugas. Jadi penolakan atau keberatan Dokter terhadap legislasi RUU Keperawatan seharusnya tidak terjadi.

Lagi pula spirit utama dari Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PP PPNI), Gerakan Nasional Perawat Indonesia bersama seluruh komponen Perawat dan Calon Perawat Indonesia yang berada di tanah air dan mancanegara yang tidak kenal lelah mendesak pengesahan RUU Keperawatan bukan untuk mengejar material semata agar diizinkan secara legal formal membuka Praktik Keperawatan Mandiri (PKM) ini. Tapi ruh dari RUU Keperawatan itu sendiri adalah untuk menciptakan milieu yang profesional bagi Perawat agar setanding dengan Perawat asing dan mampu untuk memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat agar mencapai kehidupan yang sejahtera.

Demikianlah uraian tentang PKM Dibuka, Perawat Menggaji Dokter,

Semoga bermanfaat dan Maju Terus Keperawatan Indonesia!!

Selasa, 10 Desember 2013

Sistem Universal Health Coverage Terbaik Adalah Yang Paling Sesuai Dengan Kondisi Negara Kita

Kegiatan Exchange and Study Program on "Universal Health Coverage and Hospital Accreditation Program Realization" memasuki hari pertama (25 November 2013). Paparan mengenai gambaran pelaksanaan Universal Health Coverage (UHC) di Thailand dipilih sebagai materi pembuka pada hari pertama ini. Selain itu, Dr. Suwit Wibulpolprasert selaku pembicara juga menyampaikan paparan mengenai layanan kesehatan yang bermutu dalam skema UHC di Thailand.
"Universal (health, red.) coverage tidak hanya menyentuh satu aspek. Tidak hanya seperti melakukan apindektomi pada apendisitis," tegas Dr. Suwit memulai paparannya. UHC perlu didukung juga dengan akses, dana dan kualitas. UHC juga harus cocok dengan budaya masyarakat dalam sebuah wilayah cakupan. Dalam pelaksanaan UHC, diakui Dr. Suwit, tidak akan mulus-mulus saja. Selalu ada tantangan terutama dalam aspek geografi sumber dana dan kualitas layanan.
Dalam implementasi UHC, selain dibutuhkan pengembangan infrasturktur, dibutuhkan pula orang-orang yang bersedia bekerja sepenuh hati untuk memberi pelayanan yang berkualitas. Orang-orang tersebut perlu dibangun motivasi dan passionnya untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat. Di Thailand, orang-orang semacam ini dapat ditemui misalnya pada health center di area pedesaan. Health center adalah fasilitas kesehatan setara balai-balai pengobatan di Indonesia. Orang-orang ini dapat berupa tenaga kesehatan maupun non kesehatan yang dilatih untuk memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa.
Pada tahun 2010, data menunjukkan bahwa kunjungan ke health center di Thailand mencapai 54%. Data ini lebih tinggi dibanding pada tahun 2000 yang hanya mencapai 46,1%. "Ini dapat terjadi karena kita berinvestasi besar untuk pengembangan infrastruktur health center," terang Dr. Suwit. Kunjungan masyarakat Thailand yang semakin meningkat ke health center, mengindikasikan bahwa aspek kemudahan akses layanan kesehatan dalam UHC semakin tercapai. Selain itu, pemerintah Thailand juga mempersiapkan kader-kader tenaga kesehatan dengan membuka lowongan tenaga kesehatan untuk bekerja di pedesaan dan menyekolahkan putra daerah di fakultas-fakultas kesehatan. Nantinya, putra daerah ini diminta untuk mengabdi sebagai tenaga kesehatan di daerah asalnya dan pemerintah menyediakan insentif yang memadai sebagai bentuk dukungan.
Di Thailand, rata-rata health center di desa memiliki 2-6 perawat yang melakukan task shifting. Para perawat ini memiliki tanggung jawab untuk melayani 2000-5000 populasi. Di daerah pedesaan juga terdapat rural comunity hospital atau setara Puskesmas di Indonesia. Rural comunity hospital ini memiliki 2-8 dokter yang mengurusi 30-100.000 populasi. Selain tenaga kesehatan, di health center ini terdapat pula tenaga non kesehatan. Tenaga-tenaga non kesehatan ini umumnya membantu untuk aspek promosi kesehatan.
Dalam survey yang dilakukan pemerintah terkait kepuasan penerima manfaat (pasien, red.) dan provider (tenaga kesehatan, red.) UHC dalam periode 2003-2012, diketahui bahwa kepuasan penerima manfaat UHC semakin meningkat. Sedikit berbeda dengan tingkat kepuasan provider yang cukup fluktuatif karena jasa mereka dihargai sebatas plafon pemerintah. "Tapi ini dapat diakali dengan pemberian insentif yang memadai dari pemerintah bagi dokter yang mau bertugas di daerah terpencil," terang pria yang menjabat sebagai Penasehat Senior dalam Kontrol Penyakit di Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand ini.
Sebagai penutup paparan, pria bertubuh jangkung ini memberikan sedikit masukan bagi negara-negara yang baru akan mengimplementasikan program UHC. "Untuk negara yang baru memulai UHC, kita perlu menetapkan target yang akan diraih. Tidak hanya uangnya tapi juga sistemnya dan bekerja keras untuk meraih itu semua," jelasnya. Dalam meraih target ini perlu ada kerja sama dari berbagai pihak atau global advocacy movement. Selain itu, perlu adanya program capacity building terkait UHC karena tidak ada satu sistem UHC terbaik. Sistem terbaik adalah yang paling sesuai dengan kondisi negara kita. Terakhir, perlu juga adanya gabungan dari sistem dan sumber pembiayaan yang ada.